Tugas Akhir Ilmu Komputer di UNIKOM

Assalammu’alaikum,

Nah sudah menjelang awal 2014 dan akhir 2013, kali ini saya ingin share opini saya mengenai perkembangan tugas akhir di if unikom untuk yang membahas mengenai area ilmu komputer atau sain komputer selama saya mengajar di UNIKOM. Area yang saya maksud adalah Artificial Intelligence, computer vision atau sistem rekognisi, sistem terdistribusi ataupun sistem berkinerja tinggi (komputasi berkinerja tinggi) yang kalau di unikom ada di kelompok keilmuan C, yang beberapa diantaranya saya pelajari di perkuliahan saya program magister saya di itb, dan mungkin juga ini termasuk kriptografi dan steganografi. Oh ya, saya sendiri adalah alumni S1 teknik Informatika sehingga seperti kata dosen saya kemarin, saya mungkin akan lebih punya sense untuk memiliki rasa ingin membantu merubah prodi if unikom lebih baik ketimbang dosen saya tersebut.

Saya merasa sedikit ada perbedaan yang sangat mendasar dan urgen terhadap beberapa penelitian mahasiswa di if unikom untuk area-area tersebut, termasuk tugas akhir saya sendiri sebelumnya, sehingga karena saya saat artikel ini ditulis saya masih berstatus dosen if unikom, saya sempat memberikan sedikit masukan ketika rapat mengenai skripsi/tugas akhir if unikom. Namun sayang sekali mendapat penolakan yang bagi saya tetap alasannya tidak logis bagi saya yang beberapa bulan atau 1.5 tahun terakhir saya banyak diberikan tugas eksplorasi oleh dosen-dosen saya di S2 itb, sehingga saya banyak mencari referensi untuk membantu saya dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah saya tersebut.

Di prodi if unikom, tugas akhir masih cenderung memiliki format yang sama setiap dosen atau setiap tugas akhir apapun tema tugas akhir tersebut, dan cenderung berorientasi produk. Bagi yang ada pada area keilmuan sistem informasi, teknologi informasi, rekayasa perangkat lunak mungkin tepat, bahwa tugas akhir harus menghasilkan produk dengan proses analisis yang sesuai dengan ranah keilmuannya, namun jika sain komputer pun dikenakan generalisasi tersebut, mungkin akan menjadi rancu. Hampir semua dosen di prodi if berpendapat bahwa ketika akan membuat tugas akhir yang berupa program (software) maka harus ada masalah real di lapangan, dalam artian kebutuhan akan solusi yang berupa penerapan software atau perangkat lunak yang kita bangun terhadap masalah misalkan masalah suatu perusahaan, lembaga, atau organisasi tertentu.

Untuk sistem infomrasi (SI), RPL (Rekayasa Perangkat Luniak), TI (Teknologi Informasi), saya mengambil pembagian opsi keilmuan informatika itb untuk mengelompokan area keilmuan di informatika, mungkin paradigma produk tersebut akan tepat (saya sendiri tidak tahu, karena saya tidak mengerti mengnai area keilmuan tersebut). Namun jika diterapkan untuk ranah keilmuan sain komputer, yang terjadi adalah program prototype yang masih dalam tahap eksplorasi harus diimplementasikan kedalam dunia nyata, dan kultur di unikom adalah implementasikan ke user atau lapangan yang sesungguhnya lalu buat kuisioner untuk melihat efektifitas dan mungkin efisiensi dari penerapan produk tersebut di lapangan. Kasus yang pernah saya hadapi adalah saya menguji tugas akhir salah satu mahasiswa yang membuat suatu sistem rekognisi citra digital dengan sumber scan MRI otak manusia untuk melakukan rekognisi kanker otak yang mungkin ada pada gambar, dengan memanfaatkan backpropagation sebagai algoritma untuk melakukan training dan klasifikasi.

Sayangnya dengan paradigma yang ada pada if unikom tujuan awal (sebelum sidang dengan penguji 3 saya) adalah membuat produk yang dapat mendeteksi kanker otak manusia dengan backpropagation, dengan metodologi pembangunan perangkat lunak adalah waterflow, dan bahkan isi dari bab III berisikan analisis kebutuhan perangkat lunak, bukan analsis masalah, metode dan penerapannya, bagian metode backpropagation yang di bahas sangat sedikit bahkan tidak jelas, tahapan preprocessing untuk persiapan data yang akan dilakukan training ataupun klasifikasi pun hampir tidak ada, lalu network nya pun tidak sesuai, tidak ada algoritma yang di analisis, dan 2 hal yang menurut saya yang paling fatal adalah 1. program mahasiswa tersebut diambil dari internet (copy-paste) sehingga jauh dengan analisis bab III seperti network yang dibangun ataupun nilai-nilai parameter yang digunakan, 2. pengujian yang dilakukan saya kurang jelas, hanya menghasilkan hasil klasifikasi dalam bentuk persen dari beberapa kali percobaan, saya tidak tahu pengujian apa yang digunakan cross validation atau split validation atau lainnya, dan yang paling saya tidak paham adalah kenapa dia harus membuat kuisioner untuk dilakukan pengujian beta. Sementara hasil pengujian klasifikasi menurut yang mahasiswa itu lakukan (saya tidak tahu benar atau tidak pengujiannya) adalah 64% saat itu, bayangkan program tersebut harus jadi produk dan diimplementasikan ke dunia nyata, dan harus mendapat persetujuan dokter bahwa program tersebut dapat diimplementasikan, maaf kasarnya saya dapat mengatakan ini konyol.

Kasus ini pun bukan sekali saya alami, kasus lainnya adalah pada area steganografi, bahkan mahasiswanya belum mengetahui apa itu thresholding dan tidak mengetahui length dari kunci yang digunakan untuk enkripsi dan programnya merupakan hasil copy-paste dari suatu tesis orang lain, dan akhirnya seperti biasanya analisis dan implementasi (yang seharusnya dapat digunakan untuk melakukan eksplirasi teori dan hipotesis yang sudah dibangun).

Saya tidak dapat full menyalahkan mahasiswanya (walaupun kesalahan dia adalah tidak mencari banyak referensi atau mencari sumber referensi yang benar, dan dia melakukan plagiarism yang cukup parah pada bagian program untuk melakukan eksplorasi), namun sebagian besar saya rasa kesalahan itu ada pada diri kami sebagai dosen yang mengarahkan mahasiswa tersebut kurang baik. Apa kesalahan dosen? adalah ketika dia tidak mengetahui apa yang dia hadapi (dalam artian belum memiliki pengetahuan yang baik dan benar dalam area keilmuan tersebut) namun tetap mengarahkan mahasiswa tersebut, tidak melakukan pengecekan kembali (kalaupun sadar belum mengetahui) apakah sudah benar arahan yang diberikan, tidak berani mengakui ada kekurangan informasi yang dimiliki dosen, dan beberapa tidak berusaha memperbaiki ketika we know we don’t know.

Apakah dosen salah ketika tidak mengetahui semua mengenai informatika? tidak, bagi saya menjadi dosen (terutama saya yang pemula & masih kuliah) bukan berarti kita mengetahui segala hal, karena informatika tersebut luas, dan semakin tinggi tingkat pendidikan, saya rasa semakin spesifik pengetahuan kita dan perspektif kita dalam berbagai hal, kenapa kita harus malu ketika kita mengatakan kita tidak mengetahui tentang hal tersebut. Dan jika memang kita sadar kita tidak mengetahui hal tersebut, maka bukankah sesuatu yang baik sesegera mungkin memperbaiki pengetahuan kita.

Saya seorang muslim sehingga saya sangat kagum dengan kisah Imam Malik bin Anas pernah didatangi seseorang dan ditanya 48 pertanyaan oleh orang tersebut, namun beliau hanya menjawab 32 pertanyaan dengan jawaban “saya tidak tahu”. dan Allah berfirman

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ” (QS. Al-Isra: 36)

dan Rasulullah pun mengatakan : “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak ternyata itu menjerumuskannya ke dalam neraka melebihi jarak antara timur dan barat. (HR. Bukhari)

Inipun bukanlah ditujukan untuk menunjukan kesalahan, namun menjadi pengingat pada diri saya pribadi. Saya dalam proses perkuliahan S2, dan saya banyak melihat dosen-dosen saya yang mengatakan “maaf, ini bukan area saya”, “saya tidak tahu”, “ini area baru buat saya”, “saya bukan ahli image processing”, dan yang paling saya sukai adalah seorang professor yang mengatakan dan selalu saya ikuti perkataan tersebut ketika awal mengajar “Kalian memang harus belajar dari saya, tapi jika saya yang tidak tahu, artinya saya yang belajar dari kalian”, saya cukup kagum dengan orang yang bergelar Doctor dan menjabat sebagai professor tersebut. Dan sejak awalpun saya sudah kagum dengan teman-teman saya di magister if yang tetap menjaga integritas masing-masing, saling share informasi satu sama lain, memperlihatkan kemajuan masing-masing, dan menjadi input bagi saya yang sangat berharga, dan selalu menyadarkan saya selalu ada langit diatas langit hingga sidratul muntaha tempat Sang Maha Mengetahui bersemayam di atas arsy-Nya.

Bukanlah sesuatu kehinaan ketika kita mengatakan “tidak tahu” ketika kita memang tidak atau belum mengetahui hal tersebut dan baiknya diakhiri “wallahualam bisawab”, dan sebaiknya ketika memang kita salah menjelaskan sesuatu, kenapa tidak kita mengakuinya dan memperbaikinya sebcepat mungkin dengan kebenaran yang sudah kita ketahui. Dan ini pun menjadi pembelajaran saya kedepannya, beberapa bulan ini atau 2 tahun terakhir ini saya banyak bertemu orang yang berlatar belakang berbeda, dengan pemikiran berbeda, prilaku yang berbeda dan menjadi input berharga (pengalaman berharga) bagi saya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujaraat: 13)

Semoga ke depannya di 2014 program studi if  UNIKOM akan menjadi jauh lebih baik.

wallahua’lam bisawab…

Advertisements

One thought on “Tugas Akhir Ilmu Komputer di UNIKOM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s