Obrolan Perjalanan Argo Parahyangan Jakarta-Bandung dengan seorang Kakek

Assalammu’alaikum,

Kali ini saya share mengenai pengalaman saya yang berbincang dengan seorang kakek yang saya temui di kereta Argo Parahyangan yang saya tumpangi dari Jakarta menuju Bandung.

Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Bandung setelah pesta akhir tahun perusahaan tempat saya bekerja dengan teman-teman sekantor yang lain yang memang kita bekerja di kantor Bandung, juga karena memang kita berenam (saya, dichi, stevens, hana, panggi, abdu) tinggal di Bandung.

Kebetulan karena saya dipesankan oleh kang Hana untuk 3 tiket karena rumah yang relatif dekat di daerah Cimahi, Batujajar (kab. Bandung Barat) , dan Ngamprah (Kab. Bandung Barat), maka kita jadi tim cimahi, sehingga ada dalam 1 transaksi pembelian tiket untuk tiga orang. Kang Hana bersebelahan duduk dengan abdu, sedangkan saya sendiri dengan orang lain.

Ketika mencari tempat duduk, saya ingat waktu itu gerbong eksekutif 2 kursi 5C. Kondisi gerbong penuh karena memang hari itu tanggal 24 Desmber 2014 hari menuju libur natal dan akhir pekan, lalu ternyata di bagian kursi barisan 5 ada seorang kakek yang umurnya mungkin sekitar 70 tahunan. Kakek itu bertanya “kursi 5C kan, ya disini”, saya pun berterima kasih karena memberikan informasi tersebut kepada saya. Setelah itu kakek itu berbicara “wah keretanya cukup tepat waktu juga, keberangkatan hanya terlambat 5 menit, padahal kemarin sampai terlambat 45 menit dan sempat 2 jam. Bagus juga”, saya hanya meng-iyakan, sekaligus kagum juga, ini kakek detil juga soal waktu, karena sejak saya duduk dia sering memperhatikan arloji nya.

Dia tanya “anda pulang ke Bandung?” , saya jawab ” iya, bapak jg pulang ke Bandung?”, beliau menjawab “iya saya pulang bekerja, rumah saya di Bandung.” sambil tertawa sedikit. Saya cukup kaget dengan umur beliau seharusnya sudah pensiun, apapun pekerjaannya. Karena saya penasaran dengan pekerjaannya saya tanya apa pekerjaanya, beliau menjawab kurang lebih “saya konsultan, hehe, dulu sebelumnya saya orang teknik.. insinyur, membantu project konstruksi, sekarang saya sudah pensiun dan menjadi konsultan.. ya sedang ada beberapa proyek di Jakarta, salah satunya terminal di soekarno hatta”. Saya cukup kagum juga, keren sekali kakek ini bahkan kemampuannya masih sangat diperlukan, dan masih bersedia untuk membantu juniornya di usianya yang sudah senja. Beliau menceritakan sebenarnya istrinya tidak terlalu setuju, karena seharusnya dia sudah tidak bekerja dan seharusnya sekarang menemani istrinya saja, tapi beliau tetap harus membantu beberapa project, dan sepertinya beberapa project nya merupakan project pemerintah DKI dan Bandara Soekarno Hatta (saya lupa terminal berapa). Beliau bercerita menganai apa yang dikerjakannya, sebenarnya saya tidak terlalu paham, sampai dia menanyakan saya bekerja di Jakarta atau kuliah dan saya menjawab saya bekerja di Jakarta. Beliau bertanya apa pekerjaan saya, saya menjawab saya engineer untuk software komputer atau di bidang IT tapi masih kuliah di Bandung masih tesis (bagian ini saya malu abis karena belum lulus hahahaa) , dia seperti terkesan dan mengatakan “oh anda dari ilmu komputer, jadi bidang IT ya, itu bidang yang sedang pesat sekali hari ini.. bagus sekali..”.

Lalu beliau bertanya apa yang saya lakukan, maka saya mencoba menjelaskan apa yang kami lakukan di software engineering, lalu  perusahaan tempat saya bekerja dan kebetulan saya menangani masalah analisis data dan machine learning (salah satu bagian Artificial intelligence), yang saya kaget adalah beliau cukup paham apa yang saya perbuat. Beliau mendadak menceritakan latar belakangnya, beliau lulusan itb (saya lupa lulusan tahun berapa, yang saya ingat “.. ya saya ini angkatan kakek kamu pastinya hahaha”, dan beliau melanjutkan strata 2 (master) di Amerika untuk bidang mekanika, saya lupa Universitas yang dia sebutkan, dan kembali ke Indonesia menjadi dosen di ITB. Beliau menceritakan dulu mahasiswa yang dia ajar setelah lulus beberapa banyak yang bekerja di IPTN saat itu merupakan perusahaan pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dulu di pimpin oleh mantan presiden RI ke-3 Prof. Dr.-Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pada masa kepemimpinan mantan presiden Soeharto. 

Pada saat itu IPTN sedang gencar-gencarnya dalam bidang pengembangan teknologi terutama teknologi penerbangan. Beliau menceritakan banyak mahasiswanya yang bekerja dengan menggunakan CAD (Computer Aided Design) bahkan beliau hafal singakatan beserta kepanjangan dari CAD ini, juga fungsinya, dan beliau melanjutkan bercerita tentang CFD (Computerize Fluid Dynamics), beliau menjelaskan fungsi dari CFD ini, saya pun bertanya beberapa hal mengenai CFD karena saya sendiri baru mendengar, walau saya paham fungsinya, dan beliau semakin semangat menjelaskan.

Setalah itu beliau terdiam sejenak sambil menghela nafas, dan mengatakan “saya sangat kagum dengan kalian (generasi baru) sekarang” sambil mengambil blackberry (saya tidak tahu blackberry apa, krn sy bkn penggemar blackberry hehehe), sambil mengusap layar blackberry, beliau melanjutkan “kamu tahu inikan, saya kagum didalamnya ada peta, dan memberikan informasi banyak hal kepada saya. saya bisa tau informasi apapun jadwal, waktu, tempat. Perkembangan teknologi IT ini sangat cepat, saya kagum sekali”, “ini menggunakan GPS kan ya, tapi bagaimana dia menerima sinyal” sambil menunjuk ke blackberry. Saya hanya mencoba menjelaskan secara sederhana sepanjang yang saya tahu, bagaimana proses transfer data tersebut terjadi, dan kakek tersebut sepertinya memperhatikan dengan serius, sayapun kaget hahaha.

Setelah itu, karena perjalanan panjang, beliau sempat tertidur, sayapun tertidur karena perjalan lumayan lama. Namun setelah itu saya terbangun karena ada telepon dari teman saya di Bandung (dulu teman sekantor) yang menanyakan keberadaan kami tim yang di Bandung, sepertinya kakek itupun terbangun karena menerima telepon dari temannya yang di Jakarta mengenai masalah yang timbul dilapangan. Kakek tersebut seperti memberikan penjelasan dan instruksi yang jelas mengenai apa yang terjadi dan bagaimana mengatasinya.

Setelah itu kita kembali berbincang, kakek itu masih melihat peta di hpnya dengan rasa kagum, dia memperlihatkan kepada saya aplikasi map, yang bisa membantunya melihat berbagai lokasi, beliau mengatakan dulu saya harus bawa peta kemana-mana sekarang cukup dengan telepon genggam ini. Beliau menceritakan berbagai hal mengenai bagaimana manusia sering membangun tapi tidak memperhatikan berbagai hal seperti drainase, tanah, dan lain-lain. Bahkan beliau menunjukan berbagai tempat yang digunakan sebagai tempat tambang batu atau marmer yang sebenarnya itu merusak lingkungan, karena manusia bisa membabat habis satu gunung hanya untuk mendapatkan isi/material yang didalamnya. Bahkan beliau menunjukan tempat yang hampir dijadikan tempat tambang, namun setelah digali, dipotong beberapa bagian bukit atau gunung kecil, namun ternyata tidak ditemukan bahan material yang bernilai, lalu mereka tinggalkan begitu saja tanpa ada perbaikan apapun yang diakibatkan oleh pekerjaan manusia tersebut.

Seperti biasa beliau pun mengomentari berbagai kebijakan pemerintah yang menurutnya kurang efektif dari segi teknis dan tidak jarang tidak efisien. Saya pun menceritakan beberapa pengalaman saya ketika menjalankan project pemerintah yang sering kali tidak masuk akal, karena tidak sesuai aturan yang seharunya, terkadang banyak sekali manipulasi yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Beliau tertawa mendengarnya dan mengatakan bahwa mereka itu orang yang tidak disiplin, dan sulit menghilang orang-orang seperti itu dalam struktur pemerintah.

Dilanjut dengan cerita keluarga beliau yang dulu tinggal di daerah sumur bandung, dulu anaknya sekolah dimana, dan juga cucunya yang berulang tahun, dan ada yang masih SD namun sudah pintar menggunakan berbagai gadget dan lebih pandai dari dirinya. Beliau pada dasarnya menyambut perkembangan tersebut terhadap cucu nya dan anak2 yang lain, namun tetap harus ada kontrol terhadap anak, karena informasi yang begitu cepat masuk.

Setelah itu beliau pun menceritakan bahwa pekerjaan saya punya potensi untuk meningkatkan kinerja berbagai bidang, dan melakukan prediksi berbagai hal, saya cukup kagum karena beliau menyadari itu semua. Saya menjelaskan sedikit yang saya pelajari mengenai bagaimana sebenarnya kita sanggup menganalisis berbagai data selama datanya memang ada, dan terbuka, dan menceritakan menganai gerakan opendata yang sedang digerakan pemerintah walaupun mungkin terkadang tidak mudah/sulit. Beliau mengatakan itu sangat baik dan bagus, namun ya jangan semua engineer jadi voluteer, seharusnya pemerintah support dan mendayagunakan semua resource terutama insinyur, tapi uangnya dari mana kan gak ada. Dari situ beliau juga menceritakan, itu mengapa tidak sedikit mahasiswa saya dulu akhirnya pindah ke negara orang.

Dan perbincangan pun tidak terasa sudah mendekati akhir perjalanan, beliau pun mengatakan dia dijemput oleh supirnya nanti di statsiun dan menanyakan dimana saya turun di Cimahi atau Bandung, karena agar dapet taxi dari kantor jadi saya turun di Bandung hehehe. Setelah sampai di Stasiun Bandung, saya pun berpamitan, tapi lupa menanyakan nama beliau hahaha..

Tapi ini salah satu perjalanan yang meyenangkan karena mendapat berbagai input dari seorang engineer senior yang berpengalaman dan berpengetahuan sangat luas, melihat berbagai sudut pandang beliau dan apa yang sudah beliau lakukan selama ini.

Sekian cerita perjalanan pulang saya dari Jakarta ke Bandung dengan Argo Parahyangan tanggal 24 Desember 2014 kemarin. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s