“SELAKNAT APA SAYA?” by Alfathri Adlin

Asslammu’alaikum

Kali ini saya ingin menshare posting yang saya baca (punya orang lain), dan saya share di facebook kemarin karena kebetulan isi postingnya bagus untuk saya pribadi. Seperti biasa untuk pengingat saya sendiri kalau-kalau lupa, tinggal buka blog sendiri hehe

Link aslinya dari posting facebook akun Alfathri Adlin

“–“SELAKNAT APA SAYA?”, begitu mungkin yang bisa terlontar dari lisan seseorang yang merasa telah taat beragama dan beribadah ketika tiba-tiba dia diseru untuk bertaubat. Pertanyaan baliknya adalah: “Memangnya, sesuci apa Anda hingga taubat itu bukan sesuatu yang fardhu ‘ain bagi Anda atau bahkan bagi setiap manusia?” Baiklah, mari kita lihat QS At-Tahrim [66]: 8 yang terjemahannya adalah sebagai berikut: Continue reading

Advertisements

Galau Di Malam Minggu =))

semua tersurat berjuta tahun lalu, tak ada celah nila tanpa seijin-Nya..
semenjak sang api mengingkari titah tuannya…
bergerak angkuh turun…
janji tertumpah membualkan semua tipu daya…
menghunus lirih belati dari segala penjuru..

Berdua laku terperdaya tanpa terasa.. namun sesal berkata diakhir..
terpisah.. walau maaf tercurah dengan susah payah…

sendiri bukan berarti rapuh… bersama bukan berarti tak retak…
semua ada waktunya.. ada haqnya.. tidak berlebih.. tidak pula sedikit..

ukuran-Nya tidak pernah salah… semua bergerak tanpa terkecuali waktu… menyeru mengakui apa yg tersirat berabad lalu dari sisi-Nya bagi yang tercinta untuk yang dicintai kekasih-Nya…

memilih berharap atau khilaf akan datangnya sang pembuka pintu bumi..
memilih bersiap atau khilaf akan datangnya sang penghujung waktu…
memilih sujud atau ingkar akan datangnya sang pemberat timbangan..

tunduk malu hamba tak ada daya dan upaya tanpa bantuan dari-Mu..
tunduk malu hamba tak ada mampu berfikir tanpa ilmu dari-Mu…
tunduk malu hamba yang hina tanpa kemuliaan dari-Mu…

 

by Hendri Karisma

May 25, 2013

“…Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik pada Allah…” *dalam dekapan ukhuwah*

Ini kisah tentang seorang ayah dan anak. Sang ayah bekas budak. Selaman menjadi budak, libur Jumat sebagaimana ditetapkan kesultanan dimanfaatkan untuk habis-habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, satu hari dia minta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan. “Tuan”, ujarnya, “Apakah dengan membayar harga senilai dengan berapa engkau membeliku dulu, aku akan bebas?”. “Ya. Bisa” ujar sang majikan. “Baik, ini dia.” katanya sambil meletakkan bungkusan uang itu di hadapan tuannya. “Allah ‘Azza wa Jalla telah membeliku dari Anda, lalu Dia membebaskanku. Alhamdulillah. “Maka engkau bebas karena Allah”, ujar sang tuan tertakjub. Dia bangkit dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,” katanya berpesan, “Untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang mereka. Aku berbahagia menjadi sebagian Tangan Allah yang membebaskanmu!” Penuh syukur dan haru, tapi aku disergap khawatir, dia pamit. “Aku tidak tahu wahai Tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, “Apakah kebebasan ini rahmat ataukah musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.”

Tahun demi tahun berlalu. Dia telah menikah. Tetapi sang istri meninggal ketika menyelesaikan tugasnya, menyempurnakan susuan sang putra hingga usia dua tahun. Maka dibesarkan putera semata wayangnya itu dengan penuh kasih. Dididiknya anak lelaki itu untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, Continue reading